12 Tahun Tragedi Semburan Lumpur Belum Berhenti, Tak Seharusnya Dijadikan Obyek Wisata

0

SIDOARJO, investigasi.today – Dua belas tahun sudah tragedi semburan lumpur Sidoarjo. Hingga saat ini semburan lumpur panas belum juga berhenti.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menghentikan semburan tapi tak berhasil. Sebenarnya sejak tahun 2006 silam, banyak ide dan upaya menghentikan semburan lumpur itu.

Salah satunya adalah teori Bernoulli (tekanan atas dan bawah seimbang), yang dicetuskan oleh Ir. Djaja Laksana. Lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini mengungkapkan jika

Teori Bernoulli akan menyeimbangkan tekanan atas dan bawah sehingga semburan lumpur stabil. “Dengan stabilnya tekanan, otomotis semburan (lumpur panas red) akan berhenti dengan sendirinya,” kata Djaja Laksana saat ditemui kawasan Tanggul Penahan Lumpur dikawasan Desa Siring, Sidoarjo, Selasa (29/5/2018).

Djaja menjelaskan kawasan disekitar semburan lumpur ada penurunan atau tanah yang mengarah ke amblesan pelan-pelan (Lane Subsidence) 3 cm setiap enam bulannya.

“Sekarang semburan lumpur ini dijadikan obyek wisata Lumpur Sidoarjo atau Lusi oleh Pemkab Sidoarjo, menurut saya itu sangat rentan dan berbahaya bagi masyarakat,” tegasnya

Alasan Djaja jika turunnya tanah atau subsidence terjadi mendadak pasti akan dalam amblas nya. Akan bahaya karena akan menimbulkan korban jiwa, tak hanya itu kerusakan infrastruktur yang akan lebih parah.

Djaja menegaskan jika solusi menghentikan lumpur ini sangat penting, karena semburan sudah berjalan 12 tahun hari ini tepat. Tapi hingga saat ini belum ada tindakan nyata untuk penghentian semburan lumpur tersebut, malah dijadikan obyek wisata.

“Jika semburan ini tidak dihentikan, maka akan menjadi bom waktu. Saat ini solusinya hanya aliran lumpur yang bercampur air dibuang ke Kali Porong, jika itu terus-menerus dilakukan maka jelas akan membuat sedimentasi. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia sebaiknya cepat menghentikan semburan lumpur tersebut, salah satunya dengan teori Bernoulli ini. Bukan malah dijadikan obyek wisata, sangat membahayakan,”tuturnya. (Kudori/Aria)