
Gresik, Investigasi.today — Kabupaten Gresik kembali menegaskan diri sebagai episentrum baru investasi strategis nasional. Groundbreaking proyek Nitrate Complex milik PT Bara Blasting Perkasa di Kawasan Industri Maspion menjadi penanda kuat: arus modal besar tak lagi ragu mengalir ke wilayah ini.
Langkah awal pembangunan proyek petrokimia tersebut dihadiri langsung Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, Jumat (8/5). Proyek ini bukan sekadar pembangunan pabrik, tetapi bagian dari strategi besar hilirisasi industri nasional—mulai dari bahan peledak industri hingga pupuk, dua sektor krusial bagi pertambangan dan ketahanan pangan Indonesia.
“Gresik hari ini mendapat pengakuan nyata sebagai daerah yang aman dan layak investasi. Ini bukan klaim, tapi testimoni langsung dari pelaku usaha,” tegas Yani dalam sambutannya.
Magnet Baru Investasi Nasional
Dalam beberapa tahun terakhir, tren investasi di Gresik menunjukkan lonjakan signifikan. Pemerintah daerah mengklaim keberhasilan ini ditopang oleh stabilitas keamanan, kemudahan perizinan, serta kesiapan ekosistem industri.
Namun Yani menekankan, investasi tak boleh berhenti pada angka-angka.
“Yang paling penting adalah dampaknya. Harus ada efek berganda—lapangan kerja terbuka, UMKM tumbuh, dan anak muda Gresik tidak hanya jadi penonton,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia lokal agar mampu bersaing di tengah masuknya industri modern berbasis teknologi tinggi.
Dukungan Industri dan Investor
CEO Maspion Group, Alim Markus, menilai stabilitas kawasan menjadi faktor kunci yang membuat investor percaya diri menanamkan modal di Gresik.
“Kondisi makro di sini sangat mendukung. Stabilitas dan keamanan terjaga, ini modal utama investasi jangka panjang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan kawasan industri tidak boleh hanya berorientasi jangka pendek.
“Perencanaan harus matang—aman, ramah lingkungan, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tambahnya.
Ekspansi Strategis dan Penguatan Industri Nasional
Sementara itu, Direktur Utama PT Bara Blasting Perkasa, Mei Suryawan, menyebut proyek ini sebagai ekspansi strategis lanjutan setelah pembangunan terminal amonia sebelumnya.
Menurutnya, keputusan memperluas investasi di Gresik bukan tanpa alasan.
“Ini bukti bahwa Gresik aman, kondusif, dan punya ekosistem industri yang solid. Dukungan pemerintah daerah sangat terasa,” ujarnya.
Pabrik ini nantinya akan memproduksi amonium nitrat untuk kebutuhan industri pertambangan dan konstruksi, sekaligus mengembangkan pupuk NPK sebagai bagian dari hilirisasi amonia.
Lebih jauh, proyek ini diharapkan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan peledak industri dan pupuk—dua komoditas vital yang selama ini masih bergantung pada pasar global.
“Kami ingin Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri dalam sektor industri strategis,” tegas Mei.
Dampak Ekonomi: Dari PAD hingga Aktivitas Pelabuhan
Tak hanya sektor industri, efek domino proyek ini diproyeksikan menjalar ke berbagai lini ekonomi—mulai dari peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), penyerapan tenaga kerja, hingga penguatan sektor logistik, transportasi, pergudangan, dan aktivitas pelabuhan.
Saat ini, progres pembangunan telah mencapai sekitar 33 persen. Proyek ditargetkan rampung sesuai jadwal dengan standar kualitas tinggi dan penerapan keselamatan kerja yang ketat.
Jika berjalan sesuai rencana, Nitrate Complex ini bukan hanya akan mengubah lanskap industri Gresik—tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global. (Ink)


