
Gresik, Investigasi.today – Di tengah kompetisi daerah dalam menarik investasi, tantangan sesungguhnya bukan lagi sekadar menghadirkan modal, melainkan memastikan investasi tersebut menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat. Atas kontribusinya dalam realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sepanjang 2025, PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), menerima penghargaan sebagai The Largest Investment Realization Contributor in the Domestic Investment Company (PMDN) Category 2025 dari Pemerintah Kabupaten Gresik.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani kepada Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Nuril Huda, dalam forum The 1st Gresik Business Forum, Kamis (30/7/2026).
Namun, forum investasi itu juga mengirimkan pesan yang lebih kuat daripada sekadar seremoni penghargaan. Pemerintah Kabupaten Gresik menegaskan bahwa keberhasilan investasi tidak lagi diukur dari besarnya nilai modal yang masuk, melainkan dari sejauh mana investasi mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal, memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas, hingga menjaga kualitas lingkungan.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menilai penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas komitmen perusahaan dalam menjadikan investasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi daerah.
Menurutnya, investasi yang dilakukan perusahaan tidak hanya diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi dan daya saing industri pupuk nasional, tetapi juga menghasilkan multiplier effect melalui penguatan rantai pasok industri, peningkatan aktivitas ekonomi, pemberdayaan pelaku usaha lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gresik.
“Investasi yang kami lakukan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing perusahaan, tetapi juga memberikan multiplier effect bagi masyarakat melalui penguatan rantai pasok industri, peningkatan aktivitas ekonomi, pemberdayaan UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik,” kata Daconi.
Ia menegaskan, investasi yang dijalankan Petrokimia Gresik harus mampu menghasilkan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan, tidak berhenti pada pertumbuhan bisnis perusahaan semata.
“Investasi bukan sekadar meningkatkan kapasitas perusahaan, tetapi juga harus memperkuat perekonomian daerah, memperluas kemitraan dengan pelaku usaha lokal, menjaga kelestarian lingkungan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menekankan bahwa paradigma pembangunan investasi kini telah bergeser. Pemerintah daerah mendorong agar setiap investasi memiliki dampak ekonomi dan sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, industri yang beroperasi di Gresik harus menjadi mitra pembangunan daerah, bukan sekadar pelaku usaha yang menanamkan modal.
“Keberhasilan bukan hanya diukur dari besarnya investasi yang datang, tetapi dari besarnya manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” tegas Yani.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gresik, Reza Pahlevi, menjelaskan penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Petrokimia Gresik dalam merealisasikan investasi PMDN terbesar selama 2025.
Ia menambahkan, melalui Gresik Business Forum, pemerintah daerah ingin membangun pola hubungan baru antara investor dan masyarakat. Investasi diharapkan berkembang menjadi kolaborasi yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya saing UMKM, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Bagi Petrokimia Gresik, penghargaan tersebut menjadi dorongan untuk terus menghadirkan investasi yang berkualitas dan berkelanjutan. Perusahaan menegaskan komitmennya agar setiap pengembangan usaha tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang terukur, sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Catatan Redaksi: Di tengah tingginya persaingan investasi antarwilayah, tantangan berikutnya bukan lagi pada besarnya realisasi modal, melainkan bagaimana kontribusi investasi dapat diukur secara transparan melalui indikator yang dirasakan masyarakat, seperti penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM lokal, peningkatan kesejahteraan, dan kualitas lingkungan. Ukuran inilah yang akan menentukan apakah investasi benar-benar menjadi motor pembangunan daerah atau sekadar angka dalam laporan statistik. (Ink)


