Sunday, April 14, 2024
HomeBerita BaruPeristiwaDewan Riset Nasioal Apresiasi Surabaya

Dewan Riset Nasioal Apresiasi Surabaya

Surabaya,investigasitop.com- Kota Surabaya menjadi salah satu kota terdepan dalam penataan sistem
transportasi perkotaan. Terlebih, Surabaya sudah mulai mengoptimalkan
penggunaan tenaga terbarukan di perkantoran dan moda transportasi.
Itulah
intisari dari ulasan focus group discussion bertema “Penataan Sistem
Transportasi Perkotaan Dalam Rangka Mengurangi Pemakaian BBM” yang digelar di
Ruang Sidang Wali Kota Surabaya, Selasa (30/5/2017). Acara ini merupakan kerja
sama Dewan Riset Nasional (DRN) dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Hadir
sebagai pembicara dalam forum diskusi tersebut, Wali Kota Surabaya, Dr (HC) Ir
Tri Rismaharini, Wakil Ketua Dewan Riset Nasional, Prof Sudharto P Hadi, dan Dr
Ir Arnold Soetrisnanto dari Dewan Riset Nasional, Komtek Energi serta anggota
DRN. Ikut hadir Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya,
Agus Imam Sonhaji dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Kepala
Dinas Perhubungan, Irvan Wahyudrajat dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Musdiq
Ali Suhudi.
Dalam
paparannya, Wakil Ketua DRN, Prof Sudharto menyampaikan perihal status DRN
sebagai lembaga nonstruktural yang dibentuk pemerintah untuk menggali pemikiran
pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek). Menurutnya, DRN bertugas membantu Menteri Riset dan
Teknologi dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan Iptek. Serta,
memberikan pertimbangan kepada menteri dalam penyusunan kebijakan strategis
pembangunan nasional Iptek. Dia juga menyinggung perihal pentingnya energi
terbarukan. “Saat ini ada ketergantungan pada energi fosil. Dan itu terbatas. Mudah-mudahan
policy dari kami bermanfaat untuk semua pihak,” ujar nya.
Sementara
Dr Arnold Soetrisnanto yang menyampaikan paparan bertema “Energi dari Kota
untuk Kota”, mengapresiasi Surabaya yang disebutnya telah menerapkan berbagai
poin paparan yang disampaikannya. Salah satu nya Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
di Benowo yang telah mampu menghasilkan listrik. Dr Arnold yang mengaku pernah
berada di Surabaya pada 2007 silam, juga menyebut kemacetan di Surabaya kini
berkurang. “Surabaya kini makin bersih dan kemacetan berkurang. Kemarin saya
jam 4 sore dari bandara ke hotel di daerah Gubeng, meskipun peak hour tapi
tidak banyak mengalami kemacetan. Meskipun motor masih berseliweran. Dan itu
memang tipikal transportasi di kota-kota di Indonesia,” ujarnya.
Sementara
Wali Kota Tri Rismaharini menyampaikan banyak hal perihal penataan transportasi
di Surabaya yang dirancang bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi
seperti ITS, Unair, Unibraw, UGM, ITB dan UI. Salah satunya penjelasan tentang
Surabaya Intelligent Transport System (SITS) serta rencana pengembangan
jaringan jalan. Tak ketinggalan, perihal rencana pengembangan transportasi
massal. “Saya tidak memakai konsultan asing karena saya percaya SDM kita mampu
dan tidak kalah,” ujar wali kota.
Wali
kota juga menjelaskan penggunaan seluruh sistem di Surabaya yang menggunakan
elektronik. Salah satunya, dia bisa memonitor berapa ton sampah yang masuk ke
TPA pada hari ini, termasuk berapa liter BBM yang dihabiskan mobil pengangkut
sampah serta siapa saja sopirnya. Serta, perihal penggunaan energi terbarukan
di Surabaya. “Gedung ini pakai solar cell. Ada panel nya. Termasuk juga di
sekolah-sekolah. Menurut saya ini yang paling penting. Yakni bagaimana
menggunakan energi ini sekaligus untuk mengatasi kemacetan. Ini juga saya minta
teman-teman ITS untuk buatkan mobil dinas saya pakai solar cell,” jelas wali
kota.
Paparan
wali kota lantas direspons oleh beberapa anggota DRN. Mereka mengajukan
pertanyaan maupun menyampaikan apresiasi atas program dan kebijakan yang telah
dilakukan Pemkot Surabaya. Salah satunya Danang Parikesit yang berharap
kota-kota lain meniru apa yang telah dilakukan Surabaya. Namun, dia
mempertanyakan, bila ingin meniru Surabaya, apa yang harus didahulukan, serta
bagaimana dengan kota lain yang ingin mengikuti langkah Surabaya tetapi
anggaran yang dimiliki tidak sebesar Pemkot Surabaya. “Untuk kota dengan
anggaran yang tidak sebesar Surabaya, bagaimana caranya bisa meniru Surabaya.
Mohon advise nya dari Bu Risma seperti apa?” ujarnya. 

Mendapati
pertanyaan itu, wali kota menyampaikan bahwa yang terpenting adalah niatnya
membangun untuk masyarakat, bukan untuk mencari penghargaan. Bahwa yang berat
adalah komitmen untuk melaksanakan. Wali kota juga menyampaikan bahwa yang
terpenting sejatinya bukan anggaran. “Bukan masalah uangnya, tapi bagaimana
penggunaan nya. Kota-kota lain juga ada uang. Yang kami dilakukan di Surabaya
adalah berhemat. Utamanya dengan penggunaan sistem elektronik seperti
e-bugeting di mana kami bisa menghemat belanja ATK ataupun penggunaan kertas.
Saya rasa kuncinya bukan besar atau kecil nya anggaraan, tetapi penggunaannya,”
jelas wali kota.(bud)   
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -











Most Popular