Harumkan Indonesia, Ternyata Perjalanan Tim U-16 Tidak Seindah yang Dibayangkan

0


Teks foto ; Timnas U-16 Indonesia

JAKARTA, Investigasi.Today – Setelah menyabet gelar juara Piala AFF 2018, Timnas Indonesia U-16 besutan Fakhri Chusaini mendapatkan banjir pujian. Kemenangan ini dianggap sebagai kado terindah menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.

Apa yang telah diraih Timnas U-16 ini memang luar biasa, seperti tetesan embun ditengah dahaga prestasi dunia persepakbolaan Tanah Air. Gelar terakhir yang pernah dicapai adalah ketika ketika Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri keluar sebagai juara Piala AFF 2013.

Dibalik kesuksesan yang membanggakan ini, ternyata perjalanan Timnas U-16 tidaklah semulus yang dibayangkan. Saat itu Kementeriian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menolak permohonan bantuan dari PSSI, itu artinya pemerintah tidak memberikan bantuan kepada tim juara ini.

Penolakan Kemenpora tersebut tertuang dalam surat tertanggal 7 Mei 2018 yang ditandatangani oleh Asisten Deputi Olahraga Prestasi, Chandra Bakti. Dengan alasan anggaran pada 2018 difokuskan untuk penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang.

“Sehubungan dengan hal tersebut, dengan sangat menyesal Kementerian Pemuda dan Olahraga belum dapat memenuhi harapan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia sesuai dengan proposal yang diajukan,” demikianlah bunyi surat tertulis balasan dari Kemenpora.

Sekretaris Kemenpora, Gatot Dewa Broto, menyatakan bahwa surat tersebut adalah asli. Dia juga mencoba menjelaskan secara rinci agar dipahami oleh publik, bagaimana beban finansial yang ditanggung Kemenpora dalam perhelatan Asian Games, termasuk kontribusinya untuk Timnas Indonesia.


Teks foto ; Torehan prestasi Timnas U-16 saat menjuarai Piala AFF

Untuk diketahui, dalam Asian Games ini PSSI menurunkan dua wakil. Yakni tim pria asuhan Luis Milla yang melakoni Grup A di Bekasi, dan tim putri besutan Satia Bagdja yang berlaga di Palembang.
Dua tim ini mendapatkan bantuan langsung dari Kemenpora karena berlaga di Asian Games.

Gatot mengatakan “berdasarkan laporan dari internal, anggaran dari Departemen 4 tahun ini lebih difokuskan untuk dua timnas (putra dan putri) yang berlaga di Asian Games. Jumlahnya cukup signifikan, kurang dari Rp 20 miliar,” ujarnya dalam keterangan resmi kepada awak media.

“Dengan rincian untuk tim putra Rp 10,188 miliar dan untuk tim putri Rp 9,188 miliar. Juga alokasi dana ke PSSI sebesar Rp 5,9 miliar untuk lisensi wasit internasional, pelatih profesional, dan upgrading pelatih internasional,” papar Gatot.


Teks foto ; Menpora Imam Nahrawi

Gatot juga menambahkan “untuk kedepannya Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi tengah mengupayakan bantuan dana untuk Timnas U-16 untuk berlaga Piala Asia yang digelar di Malaysia sejak September 2018,” lanjutnya.

“Sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap prestasi atlet-atlet yang sebagian berasal dari PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) di Timnas U-16 akan diberikan penghargaan sebesar Rp 200 juta,” ungkap Gatot.

PPLP sendiri memang berada di bawah naungan Kemenpora. Tercatat ada enam pemain yang dipanggil Timnas U-16, termasuk kiper Ernando Ari Sutatyadi yang menjadi pahlawan saat adu penalti di final dan David Maulana sebagai kapten utama.

Bagaimana dengan nasib para pemain Timnas U-16 yang tidak berasal dari PPLP? Apakah masih ada perhatian dari Kemenpora?
“Itu (bonus Rp 200 juta) khusus PPLP. Untuk Timnas U-16 secara kolektif ada lagi. Jumlahnya masih dibicarakan,” tandas Gatot.

Semoga Pemerintah khususnya Kemenpora tidak mengulangi kesalahan yang sama dan tahu cara menghargai prestasi yang dicapai. Indonesia adalah negara besar dan luar biasa, karena Indonesia dipenuhi oleh pemuda yang berbakat dan berpotensi. (Ink)