Wednesday, September 2, 2026
HomeBerita BaruJatimJajanan Jadul Hidup Lagi di Manyarsidomukti, 9 RT Adu Kreasi Sajikan Kuliner...

Jajanan Jadul Hidup Lagi di Manyarsidomukti, 9 RT Adu Kreasi Sajikan Kuliner Nostalgia

GRESIK, Investigasi.today – Bukan sekadar menutup rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Pemerintah Desa Manyarsidomukti, Kecamatan Manyar, Gresik, menghadirkan sebuah perayaan yang membawa warga bernostalgia ke masa lalu.

Di jalan utama desa, Senin (31/8/2026) malam, puluhan jajanan yang mulai jarang ditemui kembali tersaji. Mulai wedang ronde, getuk lindri, jongkong, horok-horok, klepon, kue rangin, hingga es puter, dihidangkan dalam Festival Jajanan Jadul.

Uniknya, festival tersebut melibatkan seluruh 9 rukun tetangga (RT) yang ada di Desa Manyarsidomukti. Masing-masing RT membuka satu lapak dengan konsep berbeda dan diwajibkan menyajikan menu yang tidak boleh sama dengan RT lainnya.

Lapak-lapak tersebut juga dibuat dengan sentuhan tradisional menggunakan anyaman bambu, sehingga suasana kampung tempo dulu semakin terasa.

Ketua panitia, Rizal, mengatakan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI telah dimulai sejak 10 Agustus dengan berbagai perlombaan yang melibatkan anak-anak, remaja hingga anggota PKK.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan jalan sehat pada 23 Agustus dan ditutup melalui panggung utama sekaligus Festival Jajanan Jadul.

“Kenapa kita angkat tema jajanan jadul, agar kita semua bisa mengenang masa kecil. Untuk generasi sekarang, bisa tahu jenis jajanan jadul,” ujarnya.

Bukan sekadar nama, konsep festival benar-benar menghadirkan jajanan yang lekat dengan kenangan masa lalu.

RT 01 misalnya, menyajikan wedang ronde dan awok-awok. RT 02 menghadirkan getuk lindri dan madumongso. RT 03 menyuguhkan jongkong dan gempol.

Berikutnya, RT 04 menyajikan horok-horok dan pudak, RT 05 menghadirkan bakso pentol udang dan putri mayang, sedangkan RT 06 menawarkan kue dongkal serta blendung mix ice cream.

RT 07 mengandalkan klepon dan es puter. RT 08 menghadirkan bikang dan kue rangin. Sementara RT 09 menyuguhkan es siwalan dan jajan gembos.

Beragam menu tersebut sontak menjadi magnet bagi warga. Tak hanya masyarakat desa setempat, warga dari luar Manyarsidomukti juga ikut berdatangan karena penasaran ingin mencicipi kembali jajanan yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak mereka temui.

Salah satunya Eliya, warga Desa Kedanyang, Kecamatan Kebomas. Ia bahkan rela mengendarai sepeda motor menuju Manyarsidomukti setelah mengetahui adanya festival tersebut.

Targetnya jelas: kue rangin dan es puter.

“Rasanya sekarang sulit mendapatkan kue rangin dan es puter. Begitu dapat info Manyarsidomukti ada festival kuliner jadul, saya langsung ke sini. Ternyata benar, sembilan lapak yang ada semuanya menjajakan makanan zaman dulu,” katanya.

Tak Hanya Nostalgia

Festival tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemerintah Desa Manyarsidomukti menjaga tradisi sekaligus memberdayakan masyarakat.

Kepala Desa Manyarsidomukti Ach Chasin, SAB, mengatakan malam puncak perayaan juga dimanfaatkan untuk menyerahkan bantuan genset kepada masing-masing RT.

Selain itu, Pemdes Manyarsidomukti kembali memberikan beasiswa kepada 23 siswa berprestasi. Mereka terdiri dari 16 siswa tingkat SD/MI, empat siswa SMP dan tiga siswa SMA.

Menurut Chasin, program beasiswa tersebut telah berjalan sejak 2020.

Penerimanya harus memenuhi sejumlah kriteria, di antaranya meraih peringkat satu atau dua serta merupakan warga dan berdomisili di Desa Manyarsidomukti.

“Program beasiswa ini sudah kita lakukan sejak tahun 2020. Syarat penerima beasiswa, selain harus ranking satu atau dua, juga warga dan berdomisili di desa,” ujarnya.

Chasin juga mengapresiasi keterlibatan karang taruna, PKK dan seluruh unsur pemerintah desa yang bekerja bersama menyukseskan rangkaian peringatan kemerdekaan.

“Saya berterima kasih kepada karang taruna, PKK dan Pemdes yang selalu berhasil membuat acara dan hasilnya tidak mengecewakan,” katanya.

Camat Manyar Hendriawan Susilo, S.Psi, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai lebih karena tidak berhenti pada seremoni perayaan kemerdekaan.

Menurutnya, ada dua hal penting yang terlihat dalam kegiatan tersebut. Pertama, perhatian pemerintah desa terhadap pendidikan melalui pemberian beasiswa. Kedua, pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui festival kuliner yang melibatkan seluruh RT.

“Saya bangga, Desa Manyarsidomukti telah menjaga sekaligus menjaga kuliner warisan leluhur. Sebab sekarang ini, generasi muda kita lebih mengenal makanan junk food dibanding jajan pasar,” puji Camat Silo.

Festival tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar pesta penutup HUT Kemerdekaan. Di tengah gempuran makanan modern, warga Manyarsidomukti justru memilih membuka kembali “album lama” lewat cita rasa yang pernah menemani masa kecil.

Satu per satu jajanan tradisional dihidupkan kembali. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi agar generasi berikutnya masih mengenal rasa dan cerita di balik kuliner warisan leluhur. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular