HomeBerita BaruJatimPanen Bawang Merah Melonjak 5 Kali Lipat, Petrokimia Gresik Bidik Talenta Pertanian...

Panen Bawang Merah Melonjak 5 Kali Lipat, Petrokimia Gresik Bidik Talenta Pertanian Masa Depan

GRESIK, Investigasi.today – Pertanian presisi bukan sekadar konsep di ruang kelas. Di SMKN 1 Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, penerapannya terbukti mampu mendongkrak hasil panen bawang merah dari 150 kilogram menjadi 800 kilogram. Produksi meningkat lebih dari lima kali lipat, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi dan penguasaan teknologi dapat mengubah produktivitas pertanian, bahkan di lahan sekolah.

Keberhasilan program School Lab Farming tersebut menjadi salah satu pijakan PT Petrokimia Gresik untuk kembali menggelar HARVESTION (Harvest and Innovation) 2026. Pendaftaran kompetisi bagi siswa dan guru SMK Pertanian se-Jawa Timur itu resmi dibuka pada Kamis (15/10/2026), dengan fokus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu menjawab tantangan pertanian melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang aplikatif.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan dan ketersediaan pupuk. Peningkatan produktivitas juga membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, adaptif terhadap teknologi, serta mampu mengubah persoalan di lapangan menjadi solusi nyata.

“Jawa Timur merupakan produsen bawang merah terbesar kedua di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi bawang merah Jawa Timur pada 2025 mencapai 499,46 ribu ton, hampir seperempat dari produksi nasional. Capaian SMKN 1 Kademangan membuktikan bahwa pertanian presisi yang diterapkan dengan tepat mampu melipatgandakan hasil panen, bahkan di lahan sekolah,” ujar Daconi.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa sekolah vokasi memiliki potensi lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan dengan kemampuan teoritis. Sekolah dapat menjadi tempat lahirnya teknologi tepat guna, model budidaya produktif, hingga inovasi yang dapat diterapkan oleh petani dan masyarakat.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), Petrokimia Gresik berupaya memperkuat hubungan antara dunia pendidikan, industri, dan kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan ini, kegiatan pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang dapat dirasakan secara nyata.

“Sekolah harus menjadi ruang bagi siswa untuk menguji pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan. Melalui HARVESTION, kami ingin mendorong lahan dan unit produksi sekolah berkembang menjadi laboratorium pembelajaran nyata yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pertanian di lapangan,” katanya.

Tiga kompetisi, satu tujuan: pertanian lebih produktif

Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, HARVESTION 2026 mengusung tema “Pertanian Presisi: Tanam Tepat, Olah Hebat, Nilai Berlipat”. Tema ini menekankan pentingnya pengelolaan pertanian secara menyeluruh, mulai dari budidaya, penanganan pascapanen, hingga penciptaan nilai tambah ekonomi.

Konsep Tanam Tepat berfokus pada pengelolaan kesuburan tanah, pemupukan terukur, serta efisiensi penggunaan air dan lahan. Sementara Olah Hebat menitikberatkan pada penanganan dan pengolahan hasil panen untuk menjaga kualitas sekaligus menekan kehilangan hasil. Adapun Nilai Berlipat diarahkan pada pengembangan kewirausahaan, inovasi, dan kolaborasi agar hasil pertanian memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, HARVESTION 2026 menghadirkan tiga kategori kompetisi.

Pertama, Olimpiade Pertanian, yang diperuntukkan bagi siswa SMK bidang Agribisnis dan Agroteknologi se-Jawa Timur. Kompetisi ini menguji penguasaan ilmu, kemampuan analisis, serta kecakapan peserta dalam memecahkan persoalan pertanian dari hulu hingga hilir.

Kedua, Inovasi dan Teknologi Pertanian, yang menantang siswa menciptakan solusi berdasarkan persoalan nyata di sekolah maupun masyarakat. Cakupannya meliputi agronomi dan pengolahan hasil pertanian, dengan penekanan pada efisiensi budidaya, peningkatan produktivitas, penjagaan mutu panen, serta penciptaan nilai tambah melalui teknologi tepat guna.

Ketiga, School Lab Farming, yang mendorong guru SMK Pertanian merancang program berbasis CSV dengan memanfaatkan lahan dan unit produksi sekolah sebagai laboratorium hidup pertanian presisi. Sekolah diharapkan mampu mengembangkan kegiatan pertanian produktif yang berorientasi pasar, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Daconi menegaskan, inovasi yang dibutuhkan sektor pertanian tidak selalu harus mahal atau mengandalkan teknologi canggih. Hal terpenting adalah kemampuan inovasi tersebut menjawab kebutuhan nyata, memberikan hasil yang terukur, dan berpotensi diterapkan secara berkelanjutan.

Karena itu, keberhasilan HARVESTION tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya peserta atau penghargaan yang diraih. Dampak jangka panjangnya justru terletak pada sejauh mana gagasan peserta benar-benar diterapkan, produktivitas meningkat, serta inovasi dapat direplikasi oleh sekolah lain dan petani di sekitarnya.

“Kami berharap HARVESTION tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, tetapi menjadi titik awal lahirnya inovasi dan talenta pertanian yang mampu membawa perubahan. Ketika sekolah mampu menghasilkan solusi yang aplikatif, generasi muda memiliki ruang untuk berkarya, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, di situlah pendidikan vokasi menjadi kekuatan nyata bagi masa depan pertanian Indonesia,” tegasnya.

Pendaftaran dibuka hingga November 2026

Petrokimia Gresik membuka pendaftaran HARVESTION 2026 mulai 15 Oktober 2026. Pendaftaran kategori Olimpiade Pertanian berlangsung hingga 30 Oktober 2026, sedangkan kategori Inovasi dan Teknologi Pertanian dibuka hingga 20 November 2026.

Informasi mengenai kategori kompetisi, persyaratan, jadwal, dan mekanisme pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi https://harvestion.id.

Melalui HARVESTION 2026, Petrokimia Gresik mendorong pendidikan vokasi pertanian bergerak melampaui pembelajaran di kelas. Targetnya bukan hanya melahirkan siswa yang memahami pertanian, melainkan generasi muda yang mampu membuktikan bahwa ilmu, inovasi, dan teknologi dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat masa depan ketahanan pangan nasional. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular