
“Lari dari Kamera, Tak Bisa Lari dari Dugaan Suap”
Jakarta, Investigasi.today – Pemandangan tak biasa terjadi di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi pada Jumat sore. Seorang pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bernama Ahmad Dedi tiba-tiba berlari kencang meninggalkan area pemeriksaan usai diperiksa penyidik KPK.
Bukan sekadar jalan cepat. Bukan pula menghindari kerumunan biasa. Di depan kamera wartawan, Ahmad Dedi memilih sprint menjauh sambil menolak memberikan sepatah kata pun. Aksi itu langsung memantik spekulasi publik: mengapa seorang aparatur negara yang belum ditetapkan tersangka justru panik di depan media?
Menurut KPK, Ahmad Dedi diperiksa terkait dugaan penerimaan uang dalam pengurusan impor barang yang menyeret perusahaan logistik PT Blueray Cargo. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyebut penyidik sedang mendalami aliran dana dan dugaan “pelicin” agar barang impor bisa lolos tanpa pemeriksaan ketat.
Kasus ini bukan perkara kecil. Dalam operasi sebelumnya, KPK telah menetapkan sejumlah pejabat Bea Cukai dan pihak swasta sebagai tersangka dugaan suap importasi. Barang bukti yang disita mencapai sekitar Rp40,5 miliar, terdiri dari uang tunai berbagai mata uang asing, emas batangan, hingga jam tangan mewah.
Yang membuat kasus ini semakin serius adalah pola permainan yang diduga sudah berlangsung sistematis. Dugaan sementara, sejumlah importir memberikan uang agar kontainer mereka “dilancarkan” tanpa pemeriksaan mendalam. Praktik seperti ini bukan hanya merugikan negara dari sisi penerimaan bea masuk, tetapi juga membuka celah masuknya barang ilegal dan manipulasi dokumen impor.
Publik pun menyoroti satu pertanyaan besar: bagaimana praktik sebesar ini bisa berjalan tanpa jaringan internal?
Aksi lari Ahmad Dedi mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi simboliknya kuat. Di tengah rendahnya kepercayaan publik terhadap institusi pengawasan impor, adegan seorang pegawai negara berlari dari wartawan justru memperkuat kesan bahwa ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi.
Media sosial langsung ramai. Potongan video “lari marathon” dari gedung KPK viral dan memunculkan kritik keras terhadap integritas aparat bea cukai.
Kasus ini kini menjadi ujian besar bagi reformasi di tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Sebab masyarakat tidak lagi hanya menunggu siapa yang ditangkap, tetapi juga ingin melihat apakah jaringan permainan impor “jalur belakang” benar-benar dibongkar sampai ke akar.
Karena ketika aparat yang seharusnya menjaga pintu masuk negara justru diduga bermain mata dengan importir, yang bocor bukan cuma kontainer — tetapi juga kepercayaan publik. (Ink)


