Uang Tabungan Terkuras Rp 65 Juta, Karyawan BRI; Jangan Lapor Polisi

0

MOJOKERTO, Investigasi.Today – Suhartoyo (58) warga Dusun Ngepung, Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur yang menjadi nasabah Bank BRI di Mojokerto mengalami nasib dial. Uang di tabungannya terkuras sebesar Rp 65 juta setelah menerima telepon mendapatkan hadiah pulsa dari seseorang yang mengaku sebagai karyawan Bank BRI pada Jumat (18/1/2019) lalu.

Suhartoyo menuturkan, saat itu dirinya tak ditanya macam-macam oleh si penelepon. Dia hanya ditanya bonus pulsa tersebut dikirim ke nomor mana. Dia pun menjawab agar bonus pulsa tersebut dikirim ke nomor ponselnya sendiri.
Ia juga telah mengadukan terkurasnya tabungan miliknya ke kantor cabang BRI di Jalan Majapahit, Kota Mojokerto pada Sabtu (19/1/2019).

Saat mengadu ke kantor cabang BRI Mojokerto, dirinya diminta menunggu selama 20 hari dan dilarang melapor ke polisi. Karena pihak bank masih menelusuri penyebab terkurasnya tabungan miliknya. Namun hingga sebulan lebih, pihak bank tak kunjung memberinya kejelasan. Bahkan dia sudah 3 kali datang ke bank menanyakan kasus yang menimpanya.

“Petugas bank berkata saya disuruh menunggu, daripada susah-susah ke sini (ke kantor cabang BRI Mojokerto), hanya diberi nomor dan disuruh telepon saja. Kalau saya tak ke sana ya tak ada kabar,” ungkapnya kecewa saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (11/3/2019) kemarin.

Duda tanpa anak ini mengaku sempat meminta izin ke petugas bank BRI cabang Mojokerto untuk melapor ke polisi. Namun, pihak bank melarangnya. Kini Suhartoyo kebingungan untuk mencari tahu penyebab raibnya tabungan miliknya.

“Apa perlu saya lapor ke polisi? Tidak usah, di sini kan sudah ada polisi. Intel-intel BRI masih nyari. Makanya tunggu, nanti dikasih kabar,” ungkap Suhartoyo sambil menirukan perkatakan pegawai bank BRI cabang Mojokerto.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Julian Kamdo Waroka memastikan belum menerima laporan dari korban terkait kasus terkurasnya tabungan di Bank BRI ini. “Saya tadi cek sampai ke polsek (Gedeg), belum ada laporan,” terangnya.


Suhartoyo (58)

Waroka menjelaskan, kasus dugaan penipuan yang dialami Suhartoyo merupakan delik aduan. Menurut dia, pihaknya baru melakukan penyelidikan setelah korban membuat laporan polisi. “Silakan nasabahnya melaporkan. Karena ini delik aduan,” tegasnya.

Dia mengaku tak memahami adanya polisi atau intel di internal BRI yang menjadi alasan pihak bank melarang korban melapor ke Polri. Menurut dia, nasabah tetap mempunyai hak melapor ke polisi saat merasa menjadi korban penipuan. “Kalau bank menyampaikan seperti itu ke korban, bank punya aturan sendiri, itu otoritas bank. Kalau korban merasa tertipu, lalu melapor (ke polisi) pun tak ada salah,” tandasnya.

Untuk diketahui, tabungan di rekening BRI milik Suhartoyo terkuras pada Jumat (18/1/2019). Itu setelah dirinya menerima telepon dari seorang pria yang mengaku karyawan BRI di hari yang sama sekitar pukul 15.00 WIB. Nomor tak dikenal itu adalah 087-748-500-721. Si penelepon mengatakan ke Suhartoyo mendapatkan bonus pulsa Rp 500 ribu. Ternyata pulsa yang masuk ke nomor ponsel korban hanya Rp 80 ribu.

Suhartoyo lantas mengecek saldo tabungannya ke agen BRI di Dusun Ngepung. Dia menggunakan kartu ATM BRI miliknya. Bak disambar petir, saldo tabungan yang semula Rp 67.071.187 tinggal Rp 2.071.187. Dia mengaku tak pernah melalukan transaksi.

Berdasarkan cetakan rekening koran yang diterima Suhartoyo dari Bank BRI Cabang Mojokerto, transaksi pertama terjadi pukul 16.00.30 WIB tanggal 18 Januari 2019. Saldo tabungan miliknya senilai Rp 10 juta ditransfer ke BRI Virtual Account (BRIVA) atas nama Yuli.

Transaksi kedua senilai Rp 40 juta terjadi pukul 16.01.34 WIB ke BRIVA atas nama Aili Nurfitria. Hanya jeda 5 menit, yaitu pukul 16.06.02 WIB, saldo tabungannya kembali ditransfer ke BRIVA atas nama Yuli senilai Rp 10 juta. Transaksi terakhir pukul 16.08.48 WIB ke BRIVA atas nama Yuli senilai Rp 5 juta. Total tabungan korban yang terkuras Rp 65 juta. ( Ink/Yanto)