Monday, August 10, 2026
HomeBerita BaruTNI/Polri103 Personel Dikerahkan, Polres Gresik Bongkar Peta Kerawanan Narkoba: Manyar-Driyorejo Jadi Titik...

103 Personel Dikerahkan, Polres Gresik Bongkar Peta Kerawanan Narkoba: Manyar-Driyorejo Jadi Titik Panas

Gresik, Investigasi.today – Peredaran narkoba di Kabupaten Gresik tak lagi bisa dibaca sebagai kejahatan jalanan biasa. Polanya bergerak, jaringannya berpindah, modusnya berkembang, dan ruang penyebarannya semakin beragam.

Fakta itu menjadi salah satu alarm yang dibawa Polres Gresik dalam Latihan Pra Operasi (Lat Pra Ops) Tumpas Narkoba Semeru 2026, Senin (10/8/2026), di Ruang Rupatama Sarja Arya Racana Polres Gresik.

Operasi yang akan digelar selama 12 hari, 12–23 Agustus 2026, tersebut melibatkan 103 personel, dengan Satresnarkoba dan Polsek jajaran sebagai ujung tombak.

Namun angka 103 personel bukan sekadar soal jumlah kekuatan. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana aparat mampu membongkar rantai pasokan, jaringan pengedar, titik distribusi, hingga pola penyamaran narkotika yang terus berubah.

Manyar 25 Pengungkapan, Driyorejo 23: Di Mana Titik Lemahnya?

Data yang dipaparkan Kanit IV Satintelkam Polres Gresik Ipda Hendry Nurdiansyah membuka gambaran mengenai wilayah yang selama ini paling banyak mencatat pengungkapan kasus narkoba.

Sepanjang 2025, Manyar tercatat 25 kali pengungkapan, disusul Driyorejo 23 kali, Kebomas 16 kali, dan Gresik Kota 15 kali.

Angka tersebut patut dibaca lebih jauh.

Banyaknya pengungkapan memang dapat menunjukkan tingginya aktivitas narkotika. Tetapi pada saat yang sama, angka tersebut juga bisa mencerminkan tingginya intensitas deteksi dan penindakan aparat di wilayah tersebut.

Karena itu, pertanyaan besarnya bukan hanya berapa kasus yang berhasil diungkap.

Pertanyaannya: dari mana narkoba masuk, siapa yang mengendalikan distribusinya, bagaimana jaringan itu bergerak, dan mengapa titik-titik tertentu terus muncul dalam peta pengungkapan?

Di sinilah efektivitas operasi tidak cukup diukur dari jumlah tersangka atau barang bukti yang diamankan.

Operasi baru benar-benar berdampak jika mampu memutus jaringan, bukan sekadar menangkap orang yang berada di lapisan paling bawah.

Modus Bergeser, Aparat Diminta Tak Terjebak Pola Lama

Dalam arahannya, Kabag Ops Polres Gresik Kompol Arief Sukmo Wibowo, mewakili Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution, menegaskan operasi harus mengedepankan deteksi dini dan tindakan tegas terhadap jaringan peredaran narkoba.

Petugas diminta berpedoman pada hasil kegiatan intelijen, melaksanakan razia secara terukur, serta memastikan perkara berjalan hingga proses pelimpahan ke kejaksaan.

Sebab, menurut pemetaan kepolisian, modus peredaran narkotika telah berkembang.

Tidak hanya transaksi konvensional, tetapi juga menggunakan sistem ranjau, peredaran obat keras tanpa resep, serta penyimpanan narkotika di berbagai lokasi, termasuk hunian, fasilitas umum dan lingkungan pendidikan.

Teknologi pun menjadi bagian dari medan perang baru.

Jaringan yang bergerak cepat dan berpindah lokasi menuntut aparat tidak hanya mengandalkan operasi konvensional. Kemampuan membaca pola komunikasi, pergerakan jaringan, dan perubahan lokasi menjadi penting dalam pengembangan kasus.

Tetapi ada satu persoalan yang tak kalah serius:

kebocoran informasi dan potensi keterlibatan oknum.

Polres Gresik secara terbuka mengingatkan personelnya untuk mewaspadai kemungkinan tersebut.

Ini penting. Sebab perang melawan narkoba tidak akan efektif apabila informasi operasi justru bocor sebelum tindakan dilakukan.

Bukan Sekadar Pengguna: Jaringan Menjadi Sasaran Utama

Kasat Resnarkoba Polres Gresik AKP Ahmad Yani menegaskan penanganan dan penerbitan Laporan Polisi terkait perkara narkoba dipusatkan melalui Satresnarkoba Polres Gresik.

Kebijakan itu ditujukan untuk menyatukan data, memperkuat pemetaan perkara, sekaligus memudahkan pengembangan jaringan dari setiap kasus yang berhasil diungkap.

Pesannya jelas: satu kasus tidak boleh berhenti pada satu tersangka.

Setiap penindakan harus menjadi pintu masuk untuk mengembangkan perkara ke jaringan yang lebih besar.

Karena itu, ia meminta setiap tindakan dilakukan berdasarkan penyelidikan yang matang dan terukur.

Tidak boleh ada tindakan arogan yang justru membahayakan personel atau mencoreng institusi.

Di sisi lain, apabila ditemukan indikasi keterlibatan personel dalam penyalahgunaan atau peredaran narkoba, Polres Gresik menyatakan akan melakukan penanganan dan assessment sesuai ketentuan.

Gresik Kota Santri, Tetapi Narkoba Tak Mengenal Label

Ada satu peringatan yang patut digarisbawahi.

Predikat Gresik sebagai Kota Santri tidak boleh berubah menjadi rasa aman yang semu.

Kompol Arief mengingatkan jajarannya agar tidak menganggap Gresik otomatis terbebas dari ancaman narkotika hanya karena identitas sosial dan keagamaan daerah tersebut.

Justru sebaliknya.

Semakin kuat sebuah daerah membangun citra sebagai wilayah religius, semakin penting memastikan citra itu tidak menutupi persoalan sosial yang nyata.

Narkoba tidak mengenal status sosial, lingkungan, ataupun label daerah.

Aparat bahkan mengantisipasi modus yang semakin beragam, termasuk narkoba cair atau liquid vape, penyelundupan melalui barang mainan, serta penyimpanan narkotika di tempat-tempat tersembunyi.

Artinya, medan pemberantasan narkoba di Gresik telah berubah.

Ujian Operasi: Berapa Banyak Jaringan yang Benar-Benar Terputus?

Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2026 kini memasuki fase pelaksanaan.

Sebanyak 103 personel telah disiapkan. Peta kerawanan telah dipaparkan. Modus telah dipetakan. Sasaran telah ditentukan.

Tetapi publik tentu tidak hanya membutuhkan angka penangkapan.

Publik membutuhkan hasil.

Berapa jaringan yang berhasil dibongkar?

Dari mana narkotika masuk ke Gresik?

Siapa pemasoknya?

Seberapa jauh jaringan tersebut bergerak?

Apakah pengungkapan berhenti pada pengguna dan kurir, atau benar-benar naik hingga bandar dan pengendali?

Dan yang tidak kalah penting: apakah operasi mampu mencegah jaringan yang sama kembali beroperasi dengan modus berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya akan menentukan apakah Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2026 benar-benar menjadi operasi pemutusan jaringan atau hanya kembali menjadi operasi penindakan rutin.

Polres Gresik menyatakan siap bergerak.

Kini publik menunggu pembuktiannya.

Sebab dalam perang melawan narkoba, keberhasilan bukan sekadar berapa banyak orang yang ditangkap, melainkan seberapa jauh mata rantai peredarannya benar-benar diputus. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular