
Coaching clinic dan praktik safety riding membekali personel dengan teknik defensive driving serta kemampuan mengantisipasi risiko di jalan raya.
GRESIK, Investigasi.today – Jalan raya tidak hanya membutuhkan pengendara yang tahu aturan, tetapi juga mereka yang mampu membaca risiko, mengantisipasi bahaya, dan mengambil keputusan tepat dalam hitungan detik.
Kesadaran itulah yang menjadi titik tekan Satlantas Polres Gresik saat menggandeng Subdenpom V/4-2 Gresik, Denpom V/4 Surabaya, menggelar Safety Riding dan Coaching Clinic di Aula Makodim 0817 Gresik, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut bukan sekadar forum penyampaian teori lalu lintas. Para personel dibekali pemahaman sekaligus keterampilan praktis agar keselamatan benar-benar menjadi kebiasaan ketika berada di jalan raya.
Kanit Kamsel Satlantas Polres Gresik Ipda Andreas Dwi Anggoro, mewakili Kasat Lantas Polres Gresik AKP Muhammad Hariyazie Syakhranie, memimpin kegiatan tersebut.
Sejumlah unsur turut dilibatkan, yakni Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik, Jasa Raharja Gresik, serta Supervisor Arina Toyota Gresik.
Sinergi lintas instansi ini menunjukkan bahwa persoalan keselamatan lalu lintas tidak dapat dibebankan hanya kepada satu institusi. Membangun budaya berkendara yang aman membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk mereka yang sehari-hari menjadi bagian dari pelayanan dan pengamanan masyarakat.
Bukan Hanya Hafal Aturan
Kasat Lantas Polres Gresik AKP Muhammad Hariyazie Syakhranie mengatakan, coaching clinic dirancang agar peserta tidak berhenti pada pemahaman secara teori.
Menurutnya, kemampuan berkendara yang aman harus dibangun melalui pemahaman, kewaspadaan, sekaligus keterampilan menghadapi berbagai kondisi di jalan.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh personel jajaran Subdenpom V/4-2 Gresik memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai keselamatan berkendara, serta mampu menerapkan budaya tertib dan aman berlalu lintas, baik dalam pelaksanaan tugas maupun kegiatan sehari-hari,” ujar AKP Hariyazie.
Pesan tersebut menjadi penting karena risiko di jalan raya tidak selalu muncul dalam situasi yang dapat diprediksi.
Kondisi kendaraan, karakter jalan, perilaku pengguna jalan lain, hingga perubahan situasi secara tiba-tiba dapat menjadi faktor yang menentukan keselamatan.
Karena itu, pengendara dituntut bukan hanya mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga mampu mengantisipasi potensi bahaya sebelum menjadi kecelakaan.
Defensive Driving Jadi Bekal Utama
Dalam coaching clinic, Ipda Andreas Dwi Anggoro bersama tim memberikan materi mengenai sejumlah aspek fundamental keselamatan berkendara.
Peserta diajak memahami pentingnya melakukan pemeriksaan kondisi dan kelayakan kendaraan sebelum digunakan. Perlengkapan keselamatan sesuai standar juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Tak kalah penting, peserta mendapatkan pemahaman mengenai teknik berkendara aman dan antisipatif atau defensive driving.
Konsep ini menempatkan kewaspadaan sebagai kunci. Pengendara tidak hanya bertanggung jawab atas kendaraannya sendiri, tetapi juga harus mampu membaca kemungkinan kesalahan atau tindakan berisiko dari pengguna jalan lainnya.
Materi kemudian tidak berhenti di ruang kelas.
Para personel mengikuti praktik dan simulasi safety riding untuk memperkuat pemahaman melalui pengalaman langsung. Teknik berkendara yang benar, aman, serta kemampuan mengantisipasi potensi bahaya dipraktikkan agar tidak sekadar menjadi pengetahuan di atas kertas.
Aparat Harus Menjadi Contoh
Satlantas Polres Gresik menargetkan edukasi tersebut tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.
Budaya keselamatan diharapkan menjadi kebiasaan yang diterapkan secara konsisten, baik ketika personel menjalankan tugas maupun saat berkendara untuk kepentingan pribadi.
Lebih jauh, personel aparat diharapkan mampu menjadi contoh bagi masyarakat.
Sebab, ketertiban lalu lintas tidak cukup dibangun melalui penindakan. Budaya keselamatan juga harus tumbuh dari keteladanan.
Ketika aparat disiplin menggunakan perlengkapan keselamatan, mematuhi aturan, mengendalikan kecepatan, dan mengedepankan sikap antisipatif, pesan keselamatan tidak hanya disampaikan melalui sosialisasi, tetapi juga diperlihatkan melalui perilaku nyata.
Kolaborasi Satlantas Polres Gresik, Subdenpom V/4-2 Gresik, Dishub, Jasa Raharja, dan pihak swasta pun menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem keselamatan lalu lintas.
Sebab pada akhirnya, jalan raya bukan ruang untuk menguji keberanian, melainkan ruang yang menuntut kedisiplinan, kewaspadaan, dan tanggung jawab.
Dan budaya keselamatan akan jauh lebih kuat ketika mereka yang berada di garis depan pelayanan publik terlebih dahulu menunjukkan teladan di jalan raya. (Ink)


