
PROBOLINGGO, Investigasi.today – Upaya menjaga ekosistem pesisir tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Mangrove harus tumbuh, ekosistemnya terjaga, dan masyarakat di sekitarnya ikut merasakan manfaat ekonomi. Prinsip inilah yang dikembangkan PT Smelting melalui program konservasi mangrove di Kabupaten Gresik sejak 2014.
Hingga 2026, perusahaan tersebut telah menanam 87.800 pohon mangrove. Konsistensi itu mengantarkan PT Smelting meraih penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa atas kontribusinya dalam pelestarian ekosistem mangrove dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Penghargaan diserahkan langsung kepada Direktur PT Smelting, Harry Pancasakti, dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 di Bee Jay Bakau Resort, Probolinggo, Selasa (3/11/2026).
Penghargaan tersebut bukan semata pengakuan atas jumlah pohon yang ditanam. Lebih jauh, program PT Smelting dinilai melalui pendekatan konservasi yang menghubungkan pemulihan lingkungan dengan pengembangan ekonomi masyarakat.
Bukan Sekadar Menanam, tetapi Membangun Ekosistem Ekonomi
Sejak memulai program konservasi pada 2014 di kawasan Ujung Pangkah, tepatnya Pangkah Kulon, PT Smelting terus memperluas jangkauan kegiatannya.
Pada 2026, perusahaan mulai mereplikasi program tersebut di wilayah Randuboto dengan komitmen penanaman 30.000 pohon mangrove selama tiga tahun.
Namun, pendekatan yang dikembangkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman. PT Smelting juga membangun berbagai fasilitas pendukung agar keberadaan hutan mangrove memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Di antaranya pengembangan ekowisata melalui bantuan kapal dan jalur tracking, pendidikan lingkungan melalui greenhouse dan sekolah mangrove, serta pemberdayaan UMKM melalui pengembangan café apung.
Langkah tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga mangrove dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan warga.
Inovasi lainnya adalah mengganti penggunaan polybag plastik untuk pembibitan mangrove dengan daun pisang. Cara ini menjadi salah satu upaya mengurangi sampah plastik dalam kegiatan konservasi.
PT Smelting juga mendorong pengembangan produk olahan mangrove agar potensi sumber daya pesisir memiliki nilai tambah ekonomi.
“Kami sharing tentang inovasi yang telah dilakukan untuk pengurangan sampah polybag dengan menggantinya menjadi daun pisang. Kami juga melakukan pemberdayaan UMKM untuk produk olahan mangrove dan menginisiasi ekowisata untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” jelas Harry.
Jawa Timur Perkuat Gerakan Pelestarian Mangrove
Penghargaan kepada PT Smelting diberikan dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.
Mengusung tema “Mangrove Lestari, Masyarakat Sejahtera”, festival tersebut diisi dengan penanaman 8.100 bibit mangrove yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kehutanan.
Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa, dengan cakupan hampir 50 persen dari keseluruhan kawasan mangrove di pulau tersebut.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa pelestarian mangrove membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, bukan hanya pemerintah.
“Saya mendorong sinergi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat, termasuk generasi muda terus memperkuat rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir,” ungkap Khofifah.
Festival tersebut juga memperoleh pengakuan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas penyelenggaraan Festival Mangrove secara seri terbanyak dalam kurun waktu lima tahun.
Dalam kesempatan itu, PT Smelting turut ambil bagian dalam pameran para pemangku kepentingan konservasi mangrove dengan memperkenalkan inovasi dan perjalanan program yang telah dijalankan di Gresik.
Penghargaan Menjadi Tantangan untuk Memperluas Dampak
Bagi PT Smelting, penghargaan dari Gubernur Jawa Timur menjadi dorongan untuk memperluas kontribusi perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat.
Tantangan berikutnya bukan hanya menambah jumlah pohon yang ditanam, tetapi memastikan keberlangsungan pertumbuhan mangrove, menjaga ekosistem pesisir, serta memperkuat manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Apresiasi dari Ibu Gubernur memacu kami untuk terus memperluas dampak positif terhadap lingkungan, sejalan dengan komitmen kami untuk selalu tumbuh bersama masyarakat, memberdayakan komunitas, dan merawat bumi demi generasi mendatang,” tegas Harry.
Dengan total 87.800 pohon mangrove yang telah ditanam dan komitmen pengembangan program di wilayah Randuboto, PT Smelting berupaya menempatkan konservasi sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan menjaga mangrove pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi juga dari seberapa kuat ekosistem pesisir terlindungi dan seberapa besar masyarakat memperoleh manfaat dari kelestarian alam. (Ink)


