Monday, October 3, 2022
HomeBerita BaruJatimRapat Koordinasi Lintas Sektor Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) Tahun 2022

Rapat Koordinasi Lintas Sektor Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) Tahun 2022

Mojokerto, Investigasi.todayJelang pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN), Pemerintah Kota Mojokerto menggelar rapat koordinasi lintas sektor, Kamis (21/7). Hal tersebut demi tercapainya target imunisasi yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus-September 2022.

“Harapan kami dengan pelaksanaan BIAN yang melibatkan seluruh stakeholder dan elemen masyarakat, maka capaiannya bisa 100 persen,” ungkap Wali kota Mojokerto Ika Puspitasari dalam forum yang digelar di Sabha Mandala Madya Kantor Pemkot Mojokerto tersebut.

Sehingga bukan hanya jajaran pemkot, dinas terkait, atau instansi kesehatan saja, melainkan juga Forkopimda, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, serta elemen masyarakat, juga diharapkan mampu bersinergi. Meski di antara pihak tersebut terdapat yang tidak terlibat langsung dengan pelaksanaan imunisasi, mereka dapat berperan untuk menyosialisasikan dan mengajak untuk imunisasi.

“Untuk vaksin Covid-19 kemarin, berkat koordinasi semua elemen, kita berhasil mencapai tingkat vaksin tertinggi di Jawa Timur. Harapannya, dengan strategi yang sama, kita bisa mengulangi kesuksesan tersebut. Apalagi kalau kali ini hanya menyasar kelompok usia tertentu,” ujar sosok yang akrab disapa Ning Ita ini optimis.

Imunisasi tersebut menyasar anak-anak usia 9-59 bulan. Menurut laporan Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB), di Kota Mojokerto sendiri terdapat 6.321 balita. Untuk memenuhi jumlah tersebut, pihaknya akan menyediakan sebanyak 221 titik pos imunisasi. Di antaranya terdapat posyandu, PAUD, puskesmas, rumah sakit, dan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Lebih lanjut, Kadis P2KB juga menyebut jika pada BIAN mendatang, pemberian imunisasi difokuskan pada dua jenis. Pertama yaitu imunisasi kejar, untuk menyusul imunisasi anak yang tertunda. Jenis tersebut diberikan bagi bayi berusia di bawah satu tahun yang belum menerima imunisasi dasar lengkap.

“Yang kedua, imunisasi campak rubella, yang diberikan untuk semua, tidak memandang status imunisasi anak. Pokoknya semua yang usia 9-59 bulan,” ujar kepala Dinkes P2KB dr. Triastutik Sri Prastini, Sp.A.

Perempuan yang akrab disapa dr. Trias ini juga menjelaskan bahwa pemberian imunisasi sangat penting, agar anak-anak mendapat perlindungan dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Berikutnya, anak yang sehat tentu akan mendukung proses pertumbuhan dan perkembangannya, sehingga menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. (Yanto)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -








Most Popular