
Gresik, Investigasi.today – Di tengah meningkatnya ancaman abrasi, rob, dan perubahan iklim terhadap kawasan pesisir, model restorasi mangrove yang dikembangkan PT Petrokimia Gresik (Persero) di Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) Mengare, Desa Tanjung Widoro, Kabupaten Gresik, mulai menunjukkan hasil nyata. Program yang dijalankan sejak 2018 itu tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis kawasan pesisir, tetapi juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat.
Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, saat menghadiri kegiatan penanaman mangrove dalam rangka HUT ke-54 Petrokimia Gresik, Rabu (5/8/2026).
Menurut Sri Subaidah, keberhasilan menjaga ekosistem pesisir tidak dapat bergantung pada pemerintah semata. Kolaborasi antara dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah menjadi faktor penentu keberlanjutan kawasan mangrove yang memiliki fungsi strategis sebagai benteng alami pesisir.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Dengan adanya konservasi mangrove yang dilakukan Petrokimia Gresik, lingkungan di Gresik akan menjadi lebih baik dan lestari. Yang terpenting, program ini dijalankan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, Kabupaten Gresik memiliki kawasan mangrove seluas sekitar 3.912 hektare yang menjadi aset ekologis penting dan membutuhkan perlindungan serius di tengah tekanan pembangunan kawasan pesisir.
Menurutnya, nilai lebih dari PRPM Mengare bukan hanya terletak pada penanaman mangrove, tetapi juga pada pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara berkesinambungan.
“Petrokimia Gresik tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat, mulai teknik penanaman hingga pengembangan produk seperti batik mangrove. Ini menjadi contoh bagaimana konservasi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menegaskan bahwa usia ke-54 perusahaan dijadikan momentum untuk memperkuat kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan melalui aksi yang memberikan dampak jangka panjang.
Alih-alih sekadar kegiatan seremonial, perusahaan memilih menjadikan penanaman mangrove sebagai bagian dari investasi ekologis bagi kawasan pesisir.
“Usia ke-54 menjadi pengingat bagi kami untuk terus tumbuh bersama masyarakat dan lingkungan. Penanaman mangrove ini merupakan wujud kepedulian Petrokimia Gresik agar manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi mendatang,” kata Daconi.
Ia menjelaskan, mangrove memiliki fungsi vital sebagai pelindung alami pantai dari abrasi dan gelombang laut, habitat berbagai biota pesisir, sekaligus penyerap karbon yang berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Program restorasi tersebut dikembangkan bersama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Tanjung Widoro. Kawasan yang sebelumnya merupakan tambak kritis akibat abrasi dan rob kini bertransformasi menjadi pusat restorasi mangrove, laboratorium pembelajaran lingkungan, hingga destinasi eduwisata yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Perkembangan kawasan juga menunjukkan tren positif. Luas tutupan mangrove di PRPM Mengare meningkat dari 5,01 hektare pada 2019 menjadi 6,7 hektare pada 2025. Seiring bertambahnya vegetasi, regenerasi mangrove berlangsung secara alami, daya lindung kawasan pesisir meningkat, dan fungsi ekologis kawasan mulai pulih.
Vice President Lingkungan Petrokimia Gresik, Muhammad Harisul Baihaqi, mengatakan restorasi dilakukan sebagai respons terhadap kerusakan kawasan pesisir yang selama bertahun-tahun mengalami abrasi hingga menggerus tambak milik masyarakat.
“Kami berupaya mengembalikan ekosistem pesisir yang sebelumnya terdampak rob dan abrasi. Melalui penanaman mangrove, kami berharap kawasan ini kembali produktif secara ekologis sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Daconi menambahkan, keberlanjutan menjadi prinsip utama perusahaan dalam menjalankan program lingkungan. Karena itu, restorasi mangrove akan terus diperkuat melalui keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama konservasi.
“Bagi kami, menjaga lingkungan bukan sekadar memenuhi tanggung jawab perusahaan, melainkan investasi jangka panjang. Kami ingin terus tumbuh bersama masyarakat dan mewariskan ekosistem pesisir yang lebih sehat bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (Ink)


