Lapor Jokowi, Khofifah : Penyebaran Covid-19 di Jatim Luar Biasa

0

Surabaya, Investigasi.today – Angka penambahan pasien positif Covid-19 di Jatim terus mengalami lonjakan. Data itu disampaikan langsung oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, secara langsung pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (25/6/2020).

“Pak Presiden, kami laporkan percepatan penambahan pasien positif di Jatim yang luar biasa. Di dunia ini dari 4 juta jadi 8 juta dalam waktu 17 hari. Di Indonesia 20 ribu menjadi 40 ribu selama 28 hari dan di Jawa Timur dari 4.000 menjadi 8.000 dalam waktu 14 hari,” kata Khofifah pada Jokowi.

“Ada percepatan penularan yang luar biasa. Tentu kami sangat membutuhkan banyak energi yang bisa kita maksimalkan, bagaimana kemudian kita menurunkan seluruh cepatnya penularan ini,” ujarnya.

Khofifah mengaku telah melakukan banyak hal untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Termasuk saat penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Surabaya Raya selama tiga tahap. Saat itu, ia mengaku sempat optimistis kasus Covid-19 di Jatim akan turun. Hal ini melihat dari rate of transmission (RT) atau rasio penukaran di Jatim yang sempat turun di bawah angka 1.

“Izin Pak Presiden, kami sempat mendapatkan kebahagiaan ketika tanggal 9 Juni sebetulnya Rate of transmission di Jawa Timur sudah 0,86 persen. Tapi kemudian ada kenaikan kembali pada tanggal 24 Juni kemarin menjadi 1,08 persen,” ungkapnya.

Ia mengatakan, wilayah Surabaya Raya, Rate of Transmission nya sudah sempat di bawah 1 sampai dengan 6 hari. Surabaya juga di bawah 1 sempat 6 hari. Sidoarjo di bawah 1 sempat 8 hari. Gresik di bawah 1 sempat 6 hari. “Hari itu kami sudah merasa bahwa kita tunggu sebentar lagi 8 hari lagi, terus kita sudah siap new normal,” ujarnya.

“Tetapi kemudian imbauan kami pada saat lebaran supaya silaturahim secara virtual dan seterusnya, itu tidak mudah untuk mengajak masyarakat halal bihalalnya nanti secara digital saja. Ternyata dianggap kurang afdol,” tuturnya.

Khofifah juga memaparkan temuan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair), terkait tingkat kepatuhan masyarakat yang rendah. Tercatat untuk kepatuhan masyarakat di Surabaya Raya di tempat ibadah, ada 70 persen yang tidak menggunakan masker, dan ada 84 persen tidak melakukan physical distancing.

Tak hanya di tempat ibadah, Khofifah menyebut di pasar tradisional jumlah masyarakat yang tidak menggunakan masker meningkat hingga 84 persen. Hal ini juga terjadi di tempat nongkrong, di mana ada 88 persen tak menggunakan masker.

Pasar tradisional 92,8 persen buka, 84 persen tidak menggunakan masker, dan 89 persen tidak physical distancing. Sedangkan tempat cangkrukan seperti warung, tercatat 88 persen pengunjung tidak menggunakan masker dan 89 persen tidak physical distancing. (Lg)